Total Tayangan Halaman

Kamis, 05 Agustus 2010

Jumat, 06/08/2010 08:30 WIB
Nominal Terlalu Besar, Rupiah Sering Jadi Bahan Celaan
Wahyu Daniel - detikFinance


Jakarta - Nominal rupiah yang terlalu besar bahkan hingga ada uang kertas  pecahan Rp 100.000, membuat mata uang kebanggaan Indonesia tersebut  seringkali menjadi bahan ledekan di mata internasional.

Demikian disampaikan oleh Pengamat Pasar Uang Farial Anwar kepada detikFinance, Kamis (6/8/2010).

"Mata uang kita termasuk mata 'uang sampah'. Waktu di sebuah pertemuan  di Singapura, ada orang Malaysia yang meledek. Dia berkata, di Indonesia  jika kita belanja kita bisa punya uang ribuan di kantong. Mereka membicarakan itu sambil tertawa meledek," ujar Farial.

Nominal rupiah yang besar menurut Farial membuat rupiah dipandang sebelah mata oleh asing. Bank Indonesia (BI), lanjut Farial, juga merasa harus meningkatkan citra dan gengsi mata uangnya di dunia internasional.

Menurut Farial, rupiah menjadi merupakan salah satu mata uang 'sampah'  atau garbage money karena masuk dalam 10 mata uang dengan nilai terendah di dunia jika dibandingkan dengan dolar AS. Karena itu kebutuhan redenominasi sangat penting dan nyata diperlukan.

Seperti diketahui, BI akan melakukan redenominasi rupiah karena uang pecahan Indonesia yang terbesar saat ini Rp 100.000. Uang rupiah tersebut mempunyai pecahan terbesar kedua di dunia, terbesar pertama adalah mata uang Vietnam yang mencetak 500.000 Dong. Namun tidak memperhitungkan negara Zimbabwe, negara tersebut pernah mencetak 100 miliar dolar Zimbabwe dalam satu lembar mata uang.

BI akan mulai melakukan sosialisasi redenominasi hingga 2012 dan dilanjutkan dengan masa transisi. Pada masa transisi digunakan dua rupiah, yakni memakai istilah rupiah lama dan rupiah hasil redenominasi yang disebut rupiah baru. BI menargetkan pada tahun 2022 proses redenominasi sudah tuntas.

(dnl/qom)

GRATIS! puluhan voucher pulsa! ikuti terus berita dari DetikFinance di Hape-mu.
Ketik REG FIN kirim ke 3845 (khusus pelanggan Indosat Rp.1300/hari)


Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!

Komentar terkini (0 Komentar) Belum ada komentar yang masuk

Baca juga :

Kamis, 05/08/2010 10:02 WIB
Redenominasi Rupiah Antisipasi Penyatuan Mata Uang ASEAN?
Suhendra - detikFinance



Foto: dok. detikFinance
Jakarta - Rencana penyederhanaan nominasi mata uang rupiah atau redenominasi masih terus membuahkan persepsi beragam. Beberapa pihak berpendapat langkah redenominasi tak terlepas dari pembentukan masyarakat ekonomi ASEAN di 2015 khususnya menyangkut wacana penyatuan mata uang di ASEAN layaknya Uni Eropa (Euro).

"Menurut perkiraan beberapa pihak, redenominasi untuk mengantisipasi disatukannya mata uang ASEAN," kata CEO Kodel Group Fahmi Idris yang juga mantan menteri perindustrian saat berbincang dengan detikFinance, Kamis (5/8/2010)

Menurut Fahmi kemungkinan Gubernur BI saat ini mencoba mengantisipasi  hal itu, dengan mengimbangi penguatan mata uang rupiah dengan negara-negara di regional ASEAN lainnya.

Bagi pengusaha saat ini, kata dia, masalah rencana redenominasi ini lebih pada soal ketidakjelasan yang menimbulkan pro dan kontra, pada akhirnya berakibat pada kegalauan kalangan pengusaha.

Ia menyatakan, di internal pemerintah sendiri masih terjadi keterkejutan soal rencana ini termasuk Wapres Boediono. Belum lagi masalah pro kontra yang terjadi di masyarakat.

"Pengusaha bingung, galau, pengusaha ingin stabil dan tenang. Kalau situasi pro kontra itu menakutkan bagi pengusaha," kata Fahmi.

Namun kata Fahmi, soal teknis dari redenominasi, ia meyakini bukan lah sebagai senering atau pemotongan nilai. Bagi pengusaha sepanjang redenominasi tak mempengaruhi nilai maka tak perlu dipersoalkan.

Fahmi menambahkan, dengan kondisi saat ini yang masih terjadi pro dan kontra akan mempengaruhi psikoligis masyarakat. Bagi seorang  pengusahaa kondisi yang belum menentu akan menimbulkan ketidaknyamanan.

"Situasi ini menimbulkan kegalauan. Karena kalau galau membingungkan pengusaha. Prinsipnya pengusaha itu akan wait and see karena pemerintah belum satu suara," katanya. (hen/ang)

GRATIS! puluhan voucher pulsa! ikuti terus berita dari DetikFinance di Hape-mu.
Ketik REG FIN kirim ke 3845 (khusus pelanggan Indosat Rp.1300/hari)


Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!

Komentar terkini (2 Komentar)
X

Baca juga :